Kamis, 11 Desember 2014

Kekuatan Kata- kata

        Beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah video berdurasi kurang lebih 3 menit di youtube. Dalam video  ditayangkan seorang kakek yang buta duduk di pinggiran jalan sambil menadahkan tangannya. Dengan berpakaian lusuh, dan bermodalkan sebuah gelas mirip kobokan makan, juga secarik kertas tulisan. Ia menuliskan kata- kata agar setiap orang yang melintas tahu akan keadaannya mengapa ia harus meminta-minta. "I am Blind - Help Me". Tak banyak yang memberi rasa iba kepada orang tua itu. Hanya beberapa orang saja yang menjatuhkan kepingan koin di depannya. Seorang perempuan lewat dan melihat tulisan si kakek tersebut. Ia menunduk, kemudian jongkok di hadapan tulisan si kakek. Ia mengganti tulisannya tanpa memberitahu si kakek dengan kata-kata " Today Is a Beautiful Day, But I Can See It" lalu pergi begitu saja. Tak berselang lama, koin berjatuhan dari setiap orang yang melewati si kakek.  Sepenggal cerita tentang kekuatan kata-kata yang membuat aku terdiam dan merenungkannya.

        Menulis merupakan suatu kegiatan yang menjadikan diri pribadi lebih fleksibel dalam menghadapi hidup. Memori yang berkapasitas 1 GB milik manusia sekalipun, bisa berubah secara perlahan menjadi 8 GB. Dengan syarat jika ia mengasahnya lewat tulisan secara berkala. Menulis bukan lah hanya sekedar men- coret kan tinta pena ke atas kertas. Menulis adalah menumpahkan segala isi dari kesemua pemikiran yang tertampung terkurung dan terkungkung dalam akuarium diri manusia. Dalam arti menulis ialah menuangkan apa yang selama ini kita tampung. Lalu dari apa kita bisa menampung sesuatu untuk dituangkan ke dalam tulisan? Ada pepatah arab yang sering terdengar oleh telinga yang memang sampai kapanpun akan manusia benarkan. Tuntutlah ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat. Dalam kitab suci Al-quran,surah a- alaq. Allah menyuruh ummat manusia untuk mendapatkan ilmu lewat menulis dan membaca.lalu ia menegaskan lagi ketika  manusia merasa sudah berkecukupan lalu ia (manusia) berpaling dan berbuat kejahatan.

        Tentu kita bisa bayangkan apa efek dari menulis dan membaca. Penulis dan pembaca lah yang menguasai dunia. Bukan pasukan bahari, bukan pula pasukan dirgantara atau pasukan bala tentara sejenis MOSSAD. Yang memang hobi nya  memborbardir orang tak bersalah dengan keroyokan. Lihat, bagaimana mereka semena-mena melakukan tindakan hukum sendiri kepada bangsa Palestina yang memang lebih dulu merdeka. Tak habis fikir jika itu hanya persoalan tanah semata. Lihat juga ketika Amerika membombardir Irak dan Afghanistan. Dengan dalih manuver Osama bin laden dan Senjata pemusnah massal. Sampai detik ini, kabar burung tentang kebenaran kasus itu pun tak pernah terungkap. Ditambah dengan kejadian 911 yang sampai sekarang di nobatkan menjadi simbol panggilan darurat.  Ada semut ada gula, ada masalah pasti ada sebabnya begitu kira-kira. Lalu apa persoalannya, oooh.. itu adalah permasalahan rahasia umum.

        Pada hari Jumat (14/11/14) dunia digemparkan oleh satu kabar yang mengungkit permasalahan agama dari Amerika. Syukurnya kabar ini adalah toleransi tingkat tinggi antar umat beragama menurut mereka. Khususnya bagi umat yang beragama Islam dan Kritsten. Dalam surat kabar (online) itu Voice Of America Indonesia, Pendeta Gina Campbell menyambut para jamaah, menyatakan Katedral Nasional Washington adalah “tempat ibadah bagi semua orang”. Saya pribadi, amat sangat teramat heran melihat besarnya rasa toleransi mereka itu. Kenapa saya sangat teramat heran? aneh saja rasanya orang yang selama ini memerangi kok malah mengundang musuh besar kerumahnya? Alasan kedua, mereka memberikan ruang kepada ummat muslim amerika beribadah di dalamnya. Lalu ketika ummat nasrani ingin beribadah di mesjid, muslim akan melarangnya karena memang begitu aturan agamanya. Lantas.. apa kata orang? Agama islam tidak punya toleransi. agama islam tidak punya nilai ketuhanan, agama islam tidak menghargai keberagaman agama. Inilah yang sedang diciptakan. Tahukah kita kenapa muslim amerika sholat di gereja ketedral?
ya. jawabannya karena mesjid tidak boleh di bangun di sana.

       Adapun hal di atas saya sebutkan, bukan karena saya benci ummat selain islam. Hanya menunjukkan betapa kuatnya arti/ makna kata-kata yang di sampaikan kepada dunia. Hitler mengatakan " Kebohongan yang diulang berkali-kali akan menjadi kebenaran yang dipercaya publik ''.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar