Senin, 15 Desember 2014

HATI


           HATI


Hati ialah penimbang risalah yang datang dari fikiran untuk diadili dalam indra ke sekian manusia dari 5 indra. Hati seringkali digunakan untuk ziarah jiwa, menarik diri kedalam keadaan. Mengingat kembali secara akurat, bahwa ini salah dan benar.  Hati juga lebih banyak di gunakan oleh orang-orang sosial sebagai hakim dalam memutuskan suatu perkara. Tapi tidak bisa kita katakan orang sosial adalah suci. Simbol hati adalah simbol yang sejak lama digunakan untuk menunjukkan spritualitas, emosi, moral dan kecerdasan  pada masa lalu. Simbol hati ini di dunia barat dimaknakan sebagai jantung. Dalam ajaran Stoikisme  yang didirikan di yunani pada abad ke-3 SM ,jantung adalah tempat tersimpannya jiwa. Jiwa itu suci, tak ada yang bisa mengotorinya. Fokus ajaran stoikisme ini terletak pada etika dan moral manusia khususnya pemerintahan pada saat itu. Jalan hidup indah bila tak lupa memakai hati. Jalan hidup ini damai bila tak mengabaikan hati.


Banyak penemuan yang dilakukan oleh manusia terhadap teknologi, semata untuk mempererat rasa persaudaraan secara universal. Namun ketika klimaks dari teknologi tercapai, semua hanya sebagai alat mediasi menuju ketamakan, kesinisan, keacuhan, bahkan kebrutalan yang meraja. Banyak orang yang berpendidikan tinggi, sayang kecerdasannya keras dan tak ramah.  Banyak orang yang piawai, tapi tak mempunyai keramahan dan ketulusan. Banyak manusia yang mempunyai kredibilitas tinggi, tapi tuna rasa dan miskin hati. Semua tercipta seperti mesin pabrik. Tak kenal dari mana asalnya. Tak tahu kemana tujuannya. Sehingga Marsamburetan segala apa yang telah tertata dengan garisnya.


Siang ini, aku menemukan sebuah kisah jalanan yang akan merimangiku di masa depan. Ketiadaan indra penglihatan kedua insan itu membuatku iba dan menarik diri. Betapa tidak, 5 angkutan yang ia hadang tak mau dan menolak memberikan tumpangan. Ia bercerita sedih dalam angkot. Tak peduli siapa saja yang mendengarnya. Ia hanya bercerita, dan terus bercerita sambil gelengkan kepala. Ada beberapa yang menyambutnya dengan mengutuk perilaku itu. Aku hanya bisa berujar, orang itu kebanyakan berfikir pak, makanya ia lupa berperasaan. Ia terus meratapi nasibnya sambil mengoceh dengan suaran pelan. Sekeras apa hati sang pengemudi yang menolaknya untuk ikut di dalam angkutan ? tak salah jika pepatah mengatakan "tak ada sekeras dan selembut hati".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar