HATI
Hati ialah penimbang risalah yang
datang dari fikiran untuk diadili dalam indra ke sekian manusia dari 5 indra. Hati
seringkali digunakan untuk ziarah jiwa, menarik diri kedalam keadaan. Mengingat
kembali secara akurat, bahwa ini salah dan benar. Hati juga lebih banyak di gunakan oleh
orang-orang sosial sebagai hakim dalam memutuskan suatu perkara. Tapi tidak
bisa kita katakan orang sosial adalah suci. Simbol hati adalah simbol yang
sejak lama digunakan untuk menunjukkan spritualitas, emosi, moral dan
kecerdasan pada masa lalu. Simbol hati
ini di dunia barat dimaknakan sebagai jantung. Dalam ajaran Stoikisme yang didirikan di yunani pada abad ke-3 SM ,jantung
adalah tempat tersimpannya jiwa. Jiwa itu suci, tak ada yang bisa mengotorinya.
Fokus ajaran stoikisme ini terletak pada etika dan moral manusia khususnya
pemerintahan pada saat itu. Jalan hidup indah bila tak lupa memakai hati. Jalan
hidup ini damai bila tak mengabaikan hati.
Banyak penemuan yang dilakukan oleh
manusia terhadap teknologi, semata untuk mempererat rasa persaudaraan secara
universal. Namun ketika klimaks dari teknologi tercapai, semua hanya sebagai
alat mediasi menuju ketamakan, kesinisan, keacuhan, bahkan kebrutalan yang
meraja. Banyak orang yang berpendidikan tinggi, sayang kecerdasannya keras dan
tak ramah. Banyak orang yang piawai,
tapi tak mempunyai keramahan dan ketulusan. Banyak manusia yang mempunyai
kredibilitas tinggi, tapi tuna rasa dan miskin hati. Semua tercipta seperti
mesin pabrik. Tak kenal dari mana asalnya. Tak tahu kemana tujuannya. Sehingga Marsamburetan segala apa yang telah
tertata dengan garisnya.
Siang ini, aku menemukan sebuah kisah
jalanan yang akan merimangiku di masa depan. Ketiadaan indra penglihatan kedua insan
itu membuatku iba dan menarik diri. Betapa tidak, 5 angkutan yang ia hadang tak
mau dan menolak memberikan tumpangan. Ia bercerita sedih dalam angkot. Tak peduli
siapa saja yang mendengarnya. Ia hanya bercerita, dan terus bercerita sambil
gelengkan kepala. Ada beberapa yang menyambutnya dengan mengutuk perilaku itu. Aku
hanya bisa berujar, orang itu kebanyakan berfikir pak, makanya ia lupa
berperasaan. Ia terus meratapi nasibnya sambil mengoceh dengan suaran pelan. Sekeras apa hati sang pengemudi yang menolaknya untuk ikut di dalam angkutan ? tak salah jika pepatah mengatakan "tak ada sekeras dan selembut hati".