Tanah Subur Yang Kering
Di tahun 2014,Juli yang lalu, tepatnya di tetapkannya sebagai awal ramadhan oleh MUI (Majelis Uama Indonesia) menjadi beban berat dalam fikiranku. Salah satunya adalah tentang sawah yang akan kami panen sebentar lagi setelah usai menunggu 3 bulan 9 hari lamanya. Lho..! kenapa ? selain memanen pada waktu puasa, ada masalah lain yakni masalah inti yang akan saya beberkan di blog saya ini. Ya, soal harga tengkulak, soal nilai kemanusiaan, dan soal ketabahan manusia-manusia desa yang tidak di anggap ikut ber-Negara. Entah ini unsur kesengajaan atau tidak, pastinya orang kampungku terus di gerayangi oleh siasat pemerintah ini. Dan pertanyaan besarnya, Indonesia adalah salah satu negara muslim terbanyak di dunia, dan indonesia adalah negara agraria dan penganut Pancasila yang salah satunya berarti menghargai / menghormati / antar umat beragama dan sesama .Pemerintahan Indonesia di dominasi oleh muslim akan tetapi, di setiap bulan Ramadhan tiba ataupun setelah selesainya, kenapa semua harga akan melambung sesukanya. utamanya pada BBM dan sangat tampak dampaknya terhadap segala-galanya? kenapa tidak pada waktu Nyepi? Natal? Imlek? Waisak saja..!?
Dan kenapa bibit pertanian dari tetangga seakan dibuat seperti bibit turunan dari surga di tanah kita? bukankah kita yang tinggal di garis Surgawi?
Kepada : Menteri Pertanian Indonesia
Lihat dan cermati prosesnya..!!!
Sawah ukuran 60 x 40 meter/ 1 orang.
* Proses pertama membersihkan sisa-sisa batang padi, berkisar 1 minggu.
* Mengumpulkan sisa-sisa batang padi yang telah di bersihkan untuk di sebarkan agar menjadi pupuk = 4 hari.
* Membersihkan rumput di pematang sawah = 1 hari.
* Tanam bibit = 25 hari siap tanam.
* Cabut semai (Mambubut) = 2 hari.
* Karantina keong = 1 minggu.
* Tanam padi = 6 hari.
* Cabut rumput di antara batang- batang padi (Marbabo) = 4 hari.
* Memupuk (Manapui) = 1 hari. Pupuk 100 kilo = Rp 370.000. Obat hama/ botol = Rp 100.000
* Marbabo yang kedua = 4 hari.
* Mengusir burung pipit/apporik (Mamuro) = 1 bulan # klo g di usir habis bulir padinya dimakan sama burung apporik itu.
* Panen (Manyabi) = 7 hari.
* Mambatting, cara tradisional untuk memisahkan bulir padi dengan batang = 6 hari, sekarang biasanya dengan mesin biayanya Rp 400.000 s/d selesai.
* Makkangar ( menghindari busuknya bulir padi) = 2 hari.
* Makkipas = 1 hari ( memisahkan bulir padi yang berisi beras dengan padi yang kosong/ampas) Rp 150.000 s/d selesai.
* Memindahkan padi(yang sudah di karungi) dari sawah ke gudang Rp 1000/karung, 1 karung = 3 kaleng (ukuran kaleng roti Unibis besar).
* Penjemuran padi untuk di proses menjadi beras 4 hari kalau cuaca bagus.
* Hasil sawah 60 x 40 meter = 100 kaleng Harga/kaleng (padi) Rp 41.800 dan per kilo nya Rp 3.800 untuk saat ini di Pahae.
* Total hari = 99 hari yang berarti 3 bulan 9 hari anda harus bersetubuh dengan bustak (lumpur) itu.
* 1 kaleng = 11 kilo x Rp 3.800 harga per kilo = Rp 41.800 x 100 kaleng = Rp 4.180,000 - Rp 1.200,000 = Rp 2.980,000 : 99 hari = Rp 3010.
Jadi upah kerja per harinya adalah 3.010 rupiah. Sementara hasil kotor nya Rp 2.980.000 belum termasuk semua pengeluaran.
N/b :Anda mungkin punya pertanyaan yang lebih dari saya.Inikah negara kita sebenarnya?? asli penindas yang lemah..? Manusiawi kah harga dan nilai untuk petani atas usahanya yang menjemur kan diri?Ataukah slogan '' PERANGI KEMISKINAN '' benar-benar harus diperangi ?
Pantas orang-orang sangat ingin berebut ''nomor'' itu walau dengan cara Hina.
#aku baru mengerti.
Ayah..
dalam hening sepi ku rindu..
untuk..
menuai padi milik kita..
tapi kerinduan, tinggal hanya kerinduan
anakmu sekarang banyak menanggung beban..
Pahae, 28 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar