Jumat, 21 Oktober 2016

Kakek Ku

ini adalah kisah nyata, yang baru saja selesai di awal 2013 atau akhir 2012 lalu. Nama kakek-ku Bandaharo Siregar, hampir memenuhi usianya 80-an. Ia begitu rentan, namun masih menampakkan wajah tua yang menawan. Hidungnya mancung, tinggi putih, dengan wajah oval, bibir tipis merah tua selaras,  ditambah warna rambut dan jenggotnya yang putih. Hampir mirip dengan sketsa malaikat-malaikat yang pernah kulihat dalam foto sebaran di internet. Ia menderita penyakit yang di "berikan" orang Nias setelah menolak melakukan korupsi secara berjamaah dulunya, sewaktu bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Ia menolak tegas, namun ketakutan jamaah korupsi lainnya pun muncul meradang. Usaha menyingkirkan beliau pun dilakukan. Mulai dari menyogok, dengan tujuan agar tidak membuka mulut, padahal niat untuk melaporkan saja beliau tak berniat. Ancaman dibunuh telah di dengungkan ke telinganya. Pernah suatu saat ia dikepung di sebuah pasar (pekan) namun lolos saja di depan mata mereka sendiri. beliau hanya lewat saja, tanpa berlari sedikit pun. kiranya begitu sulit untuk memasukkan beliau ke dalam perangkap, usaha ghaib pun dilakukan. perlahan tapi pasti, mungkin begitu bahasanya. 

Awalnya hanya meriang kecil saja, namun kelamaan semakin menjadi. Fungsi indra pun serentak tidak berfungsi. Lama ia menderita buta total, serta pikun yang didukung juga oleh usianya. Usia ia pertama menderita tersebut kira-kira di tahun ke 25 nya. Sementara ia wafat di umur 80 tahunan. Untuk mengingat nama anaknya saja pun, dia tak bisa lagi. Nama yang masih segar di kepalanya hanya ada 2 nama, yakni aku, dan putrinya yang ke 5. aku sering bersamanya kala pagi dan sore hari mendengarkan cerita Nippon di daerah tapsel. Aku duduk dipangkuannya sambil memegang kopiahnya mencari uang2 yang di tabungnya di selipan kopiah hitam pudar itu. Kalau ketahuan, aku akan disodori jenggot putihnya yang tajam sambil ia tertawa. Giginya yang polos terpampang jelas, kulit keriputnya seperti bayang-bayang pudar. Beliau biasa memanggilku Ihan, padahal ian. Kalau di bahasa indonesia kan artinya ikan. begitulah beliau memanggilku. Bila pagi hari, beliau akan membangunkan aku dengan solawat-solawat ba'da subuhnya, dari jam 5 sampai jam 7 pagi, itu durasi amalan paginya. Terkadang beliau sholat entah berkiblatkan kemana. terkadang juga sajadahnya terbalik. Namanya saja dia sudah tidak sadar lagi. Tapi yang aku herannya, beliau masih bisa mengingat bacaan sholat, dzikir dan solawat. Bagaimana mungkin orang yang pikun, untuk mengingat anaknya sendiri pun susah, bisa mengingat bacaan bacaan yang sampai sekarang aku tak tahu surat dan ayat apa saja yang di hafalnya itu dalam alquran.
Allohummagfirlahu..