Jumat, 06 Mei 2016

AKU



Aku dilahirkan ketika era 90-an memasuki pintu gerbang pertamanya yang katanya, ini adalah era keemasan anak-anak bagi anak muda tua jaman sekarang. Dimana, meriam bambu meletus ketika ramadhan tiba, mobil-mobilan yang didesign sedemikian rupa dari kayu, jerigen, hingga menyerupai mobil asli dengan ukuran mini, tulup yang terbuat dari bambu kecil yang damage nya bisa membuat warna biru, merah pada badan karena luka disekujur tubuh, segala jeratan binatang, permainan melata (kelerang, undur-undur, dll) hingga permainan game of death (lomba panjat kelapa, tarung biji karet yang diambil dari penghujung dahan) dan masih banyak lainnya yang tak terucap disini. Terima kasihku persembahkan untuk mereka yang mewariskan permainan fakir ini, mungkin umur mereka sekarang sudah mencapai 40 an keatas. 

Aku terlahir normal, layaknya seorang anak desa. Bukan berarti dirumah sakit dengan segala peralatan bedah yang berbiaya selangit. Ya, ini aku. Yang diberi nama Bunyanul Marsus dengan gelar akhir nama Siregar. Sebab, keluargaku mengandung sebuah unsur  sosial patrilinear yang berarti garis keturunan diambil dari pihak ayah. Gelar ini disebut marga yang diberikan secara cuma-cuma oleh manusia pertama tercipta orang batak di puncak bukit pangururan, danau toba katanya. Hanya saja ini terlalu fiksi (ngarang, nghayal) bagiku. Jadi ketika sesuatu itu tak masuk diakal saya, saya tak akan lagi  mendalami silsilah demi silsilah yang ada. Itu juga ada istilahnya “dalle” artinya halusnya tak mengerti adat. Namun kata kasarnya “tak tau untung”. Sakit memang, namun demikian itu adalah sebuah komitmen, juga berarti sebuah konsekuensi bagi orang yang melakukan sebuah keputusan. Seperti kata pepatah, konsekuensi itu merupakan memegang bara api, tak peduli bagaimana luka bakar melukaimu, pegang erat ia hingga padam.

Disamping sangat eratnya latar belakang keluargaku dengan adat, terselip juga ajaran ilahi yang lumayan religius mengawal kehidupan keluargaku. Itu sebabnya nama saya berarti etimologis “bangunan yang tersusun kokoh” yang diambil dari bahasa arab bunyanun dan marsus. Dan secara terminologinya, nama ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang kokoh pendiriannya, pemikirannya, jiwanya, dan lainnya. Selain itu, tak ada yang boleh bernama ini. Saya terlahir dengan multi-talenta. Cikal bakat yang telah tertanam sejak dini adalah seorang penghafal. Dimasa kanak-kanak berbakat sebagai peternak dan petani. Dimasa puberitas berbakat sebagai seorang atlet, dan aktor. Dimasa remaja berbakat sebagai penjelajah dan ekstrimis. Dan dimasa sekarang saya tak tahu berbakat apa. Dalam artian bakat yang muncul terlalu banyak dan condong kepada semuanya.

Misalnya penulis, propagandis, ekstrimis, fundamentalis, konseptor, agitator, motivator, musisi, seller, wirausahawan dll. Ada satu hal yang saya inginkan sejak dulu sebagai bakat saya, hanya saja ini tidak berjalan dengan baik. Humoris atau pelawak. Alangkah bahagianya kita melihat orang-orang tertawa lepas dari penat pikirannya, masalah hidupnya, itu adalah salah satu perbuatan baik yang dirindukan orang setiap waktu. Orang akan kehilangan anda bila tak melihat sehari saja. Namun seringkali saya berdialog dengan kawan-kawan tentu dengan tujuan bercanda, acapkali terdengar tak lucu sama sekali. Bahkan dianggap serius, padahal saya sudah menyiapkan tawa sebelumnya. Anehnya, ketika saya berkata serius justru orang malah tertawa. Merasa geli dengan bakat yang satu ini, saya putuskan untuk tidak ingin menjadi seorang humoris lagi, saya ingin menjadi orang yang serius saja. Lagi-lagi orang menginterpretasikan saya bersikap “dingin”. Jadi tak sedikit orang menganggap saya tak suka bergaul. Padahal perjalanan yang telah kulalui sudah mengelilingi pulau jawa selama 2 bulan lebih, hanya bermodalkan 800 ribu rupiah saja, no ATM, no kiriman. Dan kesan yang tertinggal adalah keinginan untuk menapaktilasinya kembali, kata mereka.

Aktivitas keseharian saya berupa ragam kegiatan yang mendukung pola perkembangan diri tentunya. Mencuri adalah kegiatan yang paling rutin dan yang paling saya sukai setiap harinya. Bisa dikatakan hobby. Mencuri ilmu dari internet lewat e-book gratis.  Mulai dari buku Sosial, Politik, Sejarah, Konspirasi, Novel, Agama, hingga buku-buku dari penulis yang tak dikenal sama sekali seperti Asep Syamsul M. Romli, Cynthia Barlow, Bambang Q Aness, Achdijat Karta Mihardja, John Mempi dkk, M. Baharuddin, William G Carr, Julius Fast, Michael F. Bird dkk, sampai penulis dan tokoh kelas atas seperti Tan Malaka, DN Aidit, Karen Amstrong, Ibnu Khaldun, Harun Yahya, Lenin, Hitler, Jalaluddin Rakhmat, Sam Harris sampai pada Syekh Siti Jenar yang sampai sekarang menjadi miskonsepsi bagi masyarakat tentang ajarannya. Kompleksnya ilmu yang ada dalam rangkuman internet bukan hanya saja berada dalam media sosial. Berjam-jam menatap layar komputer seolah melakukan hal besar namun faktanya abstrak. Sebenarnya saya masih mempunyai satu bakat lagi selain dari sekian banyak bakat dan aktivitas yang saya tuliskan dalam tulisan ini. Akan banyak orang tak percaya bahwa saya pandai berbohong.