Aku
dilahirkan ketika era 90-an memasuki pintu gerbang pertamanya yang katanya, ini
adalah era keemasan anak-anak bagi anak muda tua jaman sekarang. Dimana, meriam
bambu meletus ketika ramadhan tiba, mobil-mobilan yang didesign sedemikian rupa
dari kayu, jerigen, hingga menyerupai mobil asli dengan ukuran mini, tulup yang
terbuat dari bambu kecil yang damage nya
bisa membuat warna biru, merah pada badan karena luka disekujur tubuh, segala
jeratan binatang, permainan melata (kelerang, undur-undur, dll) hingga permainan game of death (lomba panjat kelapa, tarung biji karet yang diambil
dari penghujung dahan) dan masih banyak lainnya yang tak terucap disini. Terima
kasihku persembahkan untuk mereka yang mewariskan permainan fakir ini, mungkin
umur mereka sekarang sudah mencapai 40 an keatas.
Aku
terlahir normal, layaknya seorang anak desa. Bukan berarti dirumah sakit dengan
segala peralatan bedah yang berbiaya selangit. Ya, ini aku. Yang diberi nama
Bunyanul Marsus dengan gelar akhir nama Siregar. Sebab, keluargaku mengandung
sebuah unsur sosial patrilinear yang
berarti garis keturunan diambil dari pihak ayah. Gelar ini disebut marga yang
diberikan secara cuma-cuma oleh manusia pertama tercipta orang batak di puncak bukit
pangururan, danau toba katanya. Hanya saja ini terlalu fiksi (ngarang, nghayal)
bagiku. Jadi ketika sesuatu itu tak masuk diakal saya, saya tak akan lagi mendalami silsilah demi silsilah yang ada.
Itu juga ada istilahnya “dalle” artinya halusnya tak mengerti adat. Namun kata
kasarnya “tak tau untung”. Sakit memang, namun demikian itu adalah sebuah
komitmen, juga berarti sebuah konsekuensi bagi orang yang melakukan sebuah
keputusan. Seperti kata pepatah, konsekuensi itu merupakan memegang bara api,
tak peduli bagaimana luka bakar melukaimu, pegang erat ia hingga padam.
Disamping
sangat eratnya latar belakang keluargaku dengan adat, terselip juga ajaran
ilahi yang lumayan religius mengawal kehidupan keluargaku. Itu sebabnya nama
saya berarti etimologis “bangunan yang tersusun kokoh” yang diambil dari bahasa
arab bunyanun dan marsus. Dan secara terminologinya, nama
ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang kokoh pendiriannya, pemikirannya,
jiwanya, dan lainnya. Selain itu, tak ada yang boleh bernama ini. Saya terlahir
dengan multi-talenta. Cikal bakat yang telah tertanam sejak dini adalah seorang
penghafal. Dimasa kanak-kanak berbakat sebagai peternak dan petani. Dimasa
puberitas berbakat sebagai seorang atlet, dan aktor. Dimasa remaja berbakat
sebagai penjelajah dan ekstrimis. Dan dimasa sekarang saya tak tahu berbakat
apa. Dalam artian bakat yang muncul terlalu banyak dan condong kepada semuanya.
Misalnya
penulis, propagandis, ekstrimis, fundamentalis, konseptor, agitator, motivator,
musisi, seller, wirausahawan dll. Ada satu hal yang saya inginkan sejak dulu
sebagai bakat saya, hanya saja ini tidak berjalan dengan baik. Humoris atau
pelawak. Alangkah bahagianya kita melihat orang-orang tertawa lepas dari penat
pikirannya, masalah hidupnya, itu adalah salah satu perbuatan baik yang dirindukan
orang setiap waktu. Orang akan kehilangan anda bila tak melihat sehari saja.
Namun seringkali saya berdialog dengan kawan-kawan tentu dengan tujuan bercanda,
acapkali terdengar tak lucu sama sekali. Bahkan dianggap serius, padahal saya
sudah menyiapkan tawa sebelumnya. Anehnya, ketika saya berkata serius justru
orang malah tertawa. Merasa geli dengan bakat yang satu ini, saya putuskan
untuk tidak ingin menjadi seorang humoris lagi, saya ingin menjadi orang yang
serius saja. Lagi-lagi orang menginterpretasikan saya bersikap “dingin”. Jadi
tak sedikit orang menganggap saya tak suka bergaul. Padahal perjalanan yang
telah kulalui sudah mengelilingi pulau jawa selama 2 bulan lebih, hanya
bermodalkan 800 ribu rupiah saja, no ATM, no kiriman. Dan kesan yang tertinggal
adalah keinginan untuk menapaktilasinya kembali, kata mereka.
Aktivitas
keseharian saya berupa ragam kegiatan yang mendukung pola perkembangan diri
tentunya. Mencuri adalah kegiatan yang paling rutin dan yang paling saya sukai
setiap harinya. Bisa dikatakan hobby. Mencuri ilmu dari internet lewat e-book
gratis. Mulai dari buku Sosial, Politik,
Sejarah, Konspirasi, Novel, Agama, hingga buku-buku dari penulis yang tak
dikenal sama sekali seperti Asep Syamsul M. Romli, Cynthia Barlow, Bambang Q
Aness, Achdijat Karta Mihardja, John Mempi dkk, M. Baharuddin, William G Carr,
Julius Fast, Michael F. Bird dkk, sampai penulis dan tokoh kelas atas seperti
Tan Malaka, DN Aidit, Karen Amstrong, Ibnu Khaldun, Harun Yahya, Lenin, Hitler,
Jalaluddin Rakhmat, Sam Harris sampai pada Syekh Siti Jenar yang sampai
sekarang menjadi miskonsepsi bagi masyarakat tentang ajarannya. Kompleksnya
ilmu yang ada dalam rangkuman internet bukan hanya saja berada dalam media
sosial. Berjam-jam menatap layar komputer seolah melakukan hal besar namun
faktanya abstrak. Sebenarnya
saya masih mempunyai satu bakat lagi selain dari sekian banyak bakat dan
aktivitas yang saya tuliskan dalam tulisan ini. Akan banyak orang tak percaya bahwa saya pandai berbohong.