Jumat, 29 April 2016

Hakikat Cinta & Perang Pemaknaan



"puberitas berarti  masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa ini dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah." Lalu dari pengertian manakah kita menyebut ini sebagai cinta? 



Apa arti cinta? 

Dalam kamus besar bahasa indonesia luar jaringan (KBBI luring/offline) Cinta berarti, suka sekali ; sayang benar ; kasih sekali (terpikat antara lelaki dan perempuan) . ada juga istilah lain, disana disebutkan bahwa; Cinta bebas merupakan hubungan antara dua pria dan wanita berdasarkan kemesraan, tanpa ikatan berdasarkan adat atau hukum yang berlaku. Cinta monyet ; rasa kasih antara laki-laki dan perempuan ketika masih kanak-kanak (mudah berubah).

Bila disusuri pada kamus inggris Oxford Dictionaries maka kita akan menemui arti kata love dengan makna yang lebih luas dari KBBI. Kamus Oxford lebih mengartikan cinta itu bukan hanya sekedar hubungan antara lelaki dan perempuan saja. Namun mengakar hingga perasaan cinta kepada bangsa, kepada kawan, kegiatan, serta keseluruhan aktivitas kehidupan. Ia tidak membatasi sampai dimana arti cinta itu berada. Lalu, mari kita bandingkan dengan pandangan islam dalam memaknai arti kata cinta. Penyayang (الرحيم) dan pengasih (الرحمان) begitulah agama ini dimulai dengan menyebut nama Tuhan sang pencipta. Ketika bersua orang yang se-akidah, akan saling mendoakan dengan kalimat  الله وبركاته حمة ور عليكم السلام (Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya terlimpah kepada kalian). Salam ini bukanlah sekadar ungkapan kasih-sayang, tetapi memberikan juga alasan dan logika kasih-sayang yang diwujudkan dalam bentuk doa pengharapan agar anda selamat dari segala macam duka-derita. Dan doa ini diperuntukkan tanpa memandang kasta tertentu. 

Adalah sebuah kisah yang diyakini sebagai kisah romansa hingga sekarang dijadikan sebagai panutan juga di elu-elukan oleh kalangan kaum muda. Karya roman William Shakespeare,  berjudul Romeo & Julia yang mengisahkan tentang sepasang mempelai muda yang saling jatuh cinta namun terhalang karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Singkat cerita, mereka menjalani hubungan yang illegal dan mengarungi samudra cinta “sebebasnya”. Inilah kisah cinta yang dianggap oleh kaum muda sebagai teladan cinta walau diakhir kisah berujung pada kematian (bunuh diri).  Apakah kisah ini begitu indah untuk di teladani?

Valentine Day’s,  merupakan salah satu program percintaan yang paling diminati era sekarang ini. Kegiatannya, tak lain dan tak bukan hanya sekedar menunjukkan apresiasi kepada pasangan lewat pemberian ungkapan, hadiah, barter, dan wujud keromantisan lainnya. Tidak jarang, ada yang  menyerahkan kehormatannya sekaligus sebagai bentuk apresiasi hadiah yang luhur cintanya kepada pasangan. Program ini sebenarnya dilakukan pada era yunani kuno untuk memperingati hari pernikahan dewa mereka, Zeus dan Hera. Menurut kalender mereka, pertengahan bulan februari adalah hari dimana dewa mereka menikah. Sehingga mereka mengadakan kegiatan anniversary untuk memperingati hal ini.
perayaan ini tenggelam dan muncul kembali pada abad 14 (hingga sekarang) lewat karya sastra Goefrey Chaucer yang berjudul Parlement of Foules,  berikut kutipannya :

“Pada era itu, setiap tanggal 14 februari, pasangan-pasangan kekasih saling menukarkan catatan dan surat cinta dan menyebut nama pasangannya ‘My Valentine”.

Inikah bentuk relationship yang kita puja sebagai orang modern? Berbeda jenis kelamin dan saling tertarik ialah merupakan takdir dari pencipta. Namun, bukan berarti bila hati seseorang berdebar memandang lawan jenisnya itu disebut sebagai cinta. Ini adalah hal normal yang terjadi kepada manusia ketika beranjak dewasa akibat lonjakan hormon yang meningkat atau seringkali kita sebut sebagai puberitas. Akan tetapi sebagian besar dari kita mengindikasikan puberitas adalah gejala jatuh cinta. Padahal tidak, puberitas berarti  masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa ini dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Lalu dari pengertian manakah kita menyebut ini sebagai cinta?

Perang Pemaknaan

Dalam buku khomeni yang berjudul “perang kebudayaan” beliau menyebutkan bahwa jenis perang ini merupakan satu-satunya perang yang tidak memakan korban. Sekaligus korban perang meminta untuk diperangi secara terus menerus. Pola ini berjalan seperti yang diterangkan dalam ilmu komunikasi massa, teori Two step flow nya Lazarsfeld dan kawan-kawan. Teori ini berisi pola “Media Massa ---> Pesan-pesan ---> Opinion Leaders ---> Followers (Mass Audience).”  Lihat betapa ampuhnya media menanamkan budaya-budaya murahan, dengan artis yang tak punya satu ons kesopanan di televisi begitu mudahnya ditiru oleh anak muda sekarang. Perlu digaris bawahi bahwa mengikuti budaya yang disodorkan secara sengaja ini tak disaring dengan filter yang paling kecil. Faktor utama terjadinya penyerapan budaya ini secara membabi buta ialah saringan utama dalam lingkaran keluarga, orang tua. Bilamana fungsi dari arti orangtua tersebut diindahkan, generasi selanjutnya besar kemungkinan akan lebih bersih dari noda-noda artis akidah selokan.

*********

 Ketika seorang lelaki melihat kalian (perempuan) lalu mengedipkan matanya, lalu kalian berkata dalam hati “apakah aku secantik itu”? dan coba saja bila lelaki yang kalian sukai tak melirik, hati akan merasa rendah dan berkata, rupanya aku jelek, ternyata aku tak menarik,dan segala macam. Ini adalah akar permasalahan yang mengubah makna cinta. Semua perasaan itu ialah bentuk dari rendahnya kepercayaan diri seseorang. Takut akan tidak menikah, takut dibilang jelek, takut dianggap jomblo, dan dihantui akan segala macam hal yang sudah ditentukan oleh yang maha kuasa. Disisi lainnya para pria, bukan berarti karena kita memimpikan para gadis itu disebut cinta. Dan kita sepakat tidak membicarakan apa yang terlintas bergejolak di kepala. Ini hanya masalah pengendalian hawa nafsu yang belum baik saja. Andai menuruti keinginan nafsu semata, hitung berapa orang yang kita hancurkan hidupnya, berapa keluarga yang dirusak, apa kita sadar dan menyebut hal ini cinta?

Coba andai saja gadis cantik/pria ganteng itu bertambah 50 kilo, masihkah kita mencintainya? Atau bila wajahnya terbakar, tiba-tiba buta, terkena penyakit kusta, apakah masih sayang kepadanya? Atau lebih memilih pria/gadis lainnya? Marilah kepada petunjuk yang benar, bukan malah memilih petunjuk dari model-model idiot yang tak punya satu ons kesopanan dalam diri mereka menyatakan cintanya di televisi yang akhirnya kita mengembangkan konsep palsu dalam pikiran masing-masing tentang apa itu hakikat cinta versi kita. Hubungan (pernikahan) adalah sakral, jangan membuatnya menjadi sesuatu yang wajar-wajar saja.“Dewasa dalam perilaku bukan dalam pemikiran” itu yang akan terus mengawal pemuda/i bila konsep cinta palsu itu terus dikembangkan.Cinta itu adalah sumpah. Sumpah yang sah serta legalitasnya mengikuti aturan yang seharusnya.  Hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sadar sahaja melakukannya. Jangan biarkan dirimu ditelan ramahnya cinta, namun terletak maksud dibelakangnya. Panah cinta itu ialah tajam, tak akan mudah untuk membelokkannya kepada cinta yang sebenarnya.   

wallahu a'lam...