"puberitas berarti masa ketika seorang anak mengalami perubahan
fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa ini dalam kehidupan kita
biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di
usia 15 hingga 16 tahun. Pada wanita pubertas
ditandai dengan menstruasi pertama (menarche),
sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah." Lalu dari
pengertian manakah kita menyebut ini sebagai cinta?
Apa arti cinta?
Dalam kamus besar bahasa indonesia luar jaringan
(KBBI luring/offline) Cinta berarti, suka sekali ; sayang benar ; kasih sekali
(terpikat antara lelaki dan perempuan) . ada juga istilah lain, disana
disebutkan bahwa; Cinta bebas
merupakan hubungan antara dua pria dan wanita berdasarkan kemesraan, tanpa
ikatan berdasarkan adat atau hukum yang berlaku. Cinta monyet ; rasa kasih antara laki-laki dan perempuan ketika
masih kanak-kanak (mudah berubah).
Bila disusuri
pada kamus inggris Oxford Dictionaries maka kita akan menemui arti kata love
dengan makna yang lebih luas dari KBBI. Kamus Oxford lebih mengartikan cinta
itu bukan hanya sekedar hubungan antara lelaki dan perempuan saja. Namun
mengakar hingga perasaan cinta kepada bangsa, kepada kawan, kegiatan, serta
keseluruhan aktivitas kehidupan. Ia tidak membatasi sampai dimana arti cinta
itu berada. Lalu, mari kita bandingkan dengan pandangan islam dalam memaknai
arti kata cinta. Penyayang (الرحيم) dan pengasih (الرحمان) begitulah agama ini dimulai dengan menyebut nama Tuhan sang
pencipta. Ketika bersua orang yang se-akidah, akan saling mendoakan dengan
kalimat الله وبركاته حمة ور عليكم
السلام (Semoga
keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya terlimpah kepada kalian).
Salam ini bukanlah sekadar ungkapan kasih-sayang, tetapi memberikan juga alasan
dan logika kasih-sayang yang diwujudkan dalam bentuk doa pengharapan agar anda
selamat dari segala macam duka-derita. Dan doa ini diperuntukkan tanpa
memandang kasta tertentu.
Adalah sebuah
kisah yang diyakini sebagai kisah romansa hingga sekarang dijadikan sebagai
panutan juga di elu-elukan oleh kalangan kaum muda. Karya roman William
Shakespeare, berjudul Romeo & Julia
yang mengisahkan tentang sepasang mempelai muda yang saling jatuh cinta namun
terhalang karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Singkat cerita,
mereka menjalani hubungan yang illegal dan mengarungi samudra cinta
“sebebasnya”. Inilah kisah cinta yang dianggap oleh kaum muda sebagai teladan
cinta walau diakhir kisah berujung pada kematian (bunuh diri). Apakah kisah ini begitu indah untuk di
teladani?
Valentine Day’s, merupakan salah satu
program percintaan yang paling diminati era sekarang ini. Kegiatannya, tak lain
dan tak bukan hanya sekedar menunjukkan apresiasi kepada pasangan lewat
pemberian ungkapan, hadiah, barter, dan wujud keromantisan lainnya. Tidak jarang,
ada yang menyerahkan kehormatannya sekaligus
sebagai bentuk apresiasi hadiah yang luhur cintanya kepada pasangan. Program
ini sebenarnya dilakukan pada era yunani kuno untuk memperingati hari
pernikahan dewa mereka, Zeus dan Hera. Menurut kalender mereka, pertengahan
bulan februari adalah hari dimana dewa mereka menikah. Sehingga mereka
mengadakan kegiatan anniversary untuk memperingati hal ini.
perayaan ini tenggelam dan muncul kembali pada abad 14 (hingga sekarang) lewat karya sastra Goefrey Chaucer yang berjudul Parlement of Foules, berikut kutipannya :
perayaan ini tenggelam dan muncul kembali pada abad 14 (hingga sekarang) lewat karya sastra Goefrey Chaucer yang berjudul Parlement of Foules, berikut kutipannya :
“Pada era itu, setiap tanggal 14 februari, pasangan-pasangan
kekasih saling menukarkan catatan dan surat cinta dan menyebut nama pasangannya
‘My Valentine”.
Inikah bentuk
relationship yang kita puja sebagai orang modern? Berbeda jenis kelamin dan
saling tertarik ialah merupakan takdir dari pencipta. Namun, bukan berarti bila
hati seseorang berdebar memandang lawan jenisnya itu disebut sebagai cinta. Ini
adalah hal normal yang terjadi kepada manusia ketika beranjak dewasa akibat
lonjakan hormon yang meningkat atau seringkali kita sebut sebagai puberitas.
Akan tetapi sebagian besar dari kita mengindikasikan puberitas adalah gejala
jatuh cinta. Padahal tidak, puberitas berarti masa ketika seorang anak mengalami perubahan
fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa ini dalam kehidupan kita
biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di
usia 15 hingga 16 tahun. Pada wanita pubertas
ditandai dengan menstruasi pertama (menarche),
sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Lalu dari
pengertian manakah kita menyebut ini sebagai cinta?
Perang Pemaknaan
Dalam buku khomeni yang berjudul “perang kebudayaan” beliau
menyebutkan bahwa jenis perang ini merupakan satu-satunya perang yang tidak
memakan korban. Sekaligus korban perang meminta untuk diperangi secara terus
menerus. Pola ini berjalan seperti yang diterangkan dalam ilmu komunikasi
massa, teori Two step flow nya Lazarsfeld dan kawan-kawan. Teori ini
berisi pola “Media Massa ---> Pesan-pesan ---> Opinion Leaders --->
Followers (Mass Audience).” Lihat betapa
ampuhnya media menanamkan budaya-budaya murahan, dengan artis yang tak punya
satu ons kesopanan di televisi begitu mudahnya ditiru oleh anak muda sekarang. Perlu
digaris bawahi bahwa mengikuti budaya yang disodorkan secara sengaja ini tak
disaring dengan filter yang paling kecil. Faktor utama terjadinya penyerapan
budaya ini secara membabi buta ialah saringan utama dalam lingkaran keluarga,
orang tua. Bilamana fungsi dari arti orangtua tersebut diindahkan, generasi
selanjutnya besar kemungkinan akan lebih bersih dari noda-noda artis akidah
selokan.
*********
Ketika seorang lelaki melihat kalian
(perempuan) lalu mengedipkan matanya, lalu kalian berkata dalam hati “apakah
aku secantik itu”? dan coba saja bila lelaki yang kalian sukai tak melirik,
hati akan merasa rendah dan berkata, rupanya aku jelek, ternyata aku tak
menarik,dan segala macam. Ini adalah akar permasalahan yang mengubah makna
cinta. Semua perasaan itu ialah bentuk dari rendahnya kepercayaan diri
seseorang. Takut akan tidak menikah, takut dibilang jelek, takut dianggap
jomblo, dan dihantui akan segala macam hal yang sudah ditentukan oleh yang maha
kuasa. Disisi lainnya para pria, bukan berarti karena kita memimpikan para
gadis itu disebut cinta. Dan kita sepakat tidak membicarakan apa yang terlintas
bergejolak di kepala. Ini hanya masalah pengendalian hawa nafsu yang belum baik
saja. Andai menuruti keinginan nafsu semata, hitung berapa orang yang kita
hancurkan hidupnya, berapa keluarga yang dirusak, apa kita sadar dan menyebut
hal ini cinta?
Coba andai saja
gadis cantik/pria ganteng itu bertambah 50 kilo, masihkah kita mencintainya?
Atau bila wajahnya terbakar, tiba-tiba buta, terkena penyakit kusta, apakah
masih sayang kepadanya? Atau lebih memilih pria/gadis lainnya? Marilah kepada
petunjuk yang benar, bukan malah memilih petunjuk dari model-model idiot yang
tak punya satu ons kesopanan dalam diri mereka menyatakan cintanya di televisi
yang akhirnya kita mengembangkan konsep palsu dalam pikiran masing-masing
tentang apa itu hakikat cinta versi kita. Hubungan (pernikahan) adalah sakral,
jangan membuatnya menjadi sesuatu yang wajar-wajar saja.“Dewasa dalam perilaku
bukan dalam pemikiran” itu yang akan terus mengawal pemuda/i bila konsep cinta
palsu itu terus dikembangkan.Cinta itu adalah sumpah. Sumpah yang sah serta
legalitasnya mengikuti aturan yang seharusnya. Hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang
sadar sahaja melakukannya. Jangan biarkan dirimu ditelan ramahnya cinta, namun
terletak maksud dibelakangnya. Panah cinta itu ialah tajam, tak akan mudah
untuk membelokkannya kepada cinta yang sebenarnya.
wallahu a'lam...
