Jumat, 05 Juni 2015

Mungkin Berkah Sholat Subuh.





Biasanya, jam 07;00 pagi, mataku masih melalak entah kemana arahnya. Fikiranku jelas, namun tak terarah. Seringkali berusaha untuk menghilangkan semua beban fikiran yang jelas-jelas kiranya belumlah seberat fikiran orang tua yang sudah beranak lima. Hal-hal yang mustahil sekalipun saya sudah pernah lakukan untuk bisa tidur dan bangun di pagi hari. Kepala dibawah kaki di atas selama 10 menit, berdiri dengan kaki satu selama 10 sampai 15 menit, sit up sampai perut kebas, ikat kedua mata dengan selendang, matikan lampu, bahkan sampai duduk bersila tidak ngapa-ngapain sampai 4 jam pun sudah saya lakukan. Terkadang aku ingin mencoba pil obat tidur supaya bisa normal seperti orang kebanyakan. Hanya saja badanku sudah terbiasa menolak pil itu, pil/ obat kimiawi pertama yang pertama ku telan seingatku sewaktu sunatan pada kelas lima SD. Itupun terpaksa karena di takut-takutin tak punya burung lagi oleh dokter. Insomnia bukanlah penyakit yang kudambakan. Bagiku insomnia adalah sebuah penyakit yang erat hubungannya dengan masa depan. Bagaimana pun ajaran bangun pagi adalah anjuran seluruh dunia, bahkan tuhan pun memanggil hambanya pada saat dini hari. Insomnia adalah penyakit yang takut kepada matahari pagi. Sehingga ia bersembunyi dalam mimpi nya dan berusaha mengejarnya pada matahari telah di ubun-ubun. Berbagai penyakit akan mudah menyerang penderita ini. Terutama pada indra penglihatan. Dan perangkat perangkat organ tubuh manusia lainnya.
Sampai pada saat ini, saya belum menemukan obat insomnia. Memang saya bukanlah seorang peneliti. Hanya saja sebagai korban, minimalnya untuk menyembuhkan pribadi saja alangkah bahagianya. Beberapa trik dan tips yang kudapat dari internet, sengaja kucoba ke akuratannya. Hasilnya sungguh mengecewakan. Mungkin ini persepsi buruk pribadi ku saja. Tips dan trik untuk mengobati insomnia yang dikatakan di blog dan web itu hanyalah sebagai peramai dan angan-angan saja. Tahu angan angan bukan? Hal yang sangat mudah dijangkau oleh otak terdangkal sekalipun. Begitulah trik itu dibuat. Kalau kata kasarnya demi uang dan figure. Andai pembuat trik dan tips itu tahu, betapa bencinya aku terhadap orang yang mengambil keuntungan dari menipu. Ya sudahlah mungkin itu bermanfaat bagi dia sendiri atau lagi- lagi persepsi buruk, itu adalah hasil copast.
Setan erat hubungannya dengan manusia. Sebab siang dan malam berdampingan, maka baik dan buruk pun juga. Coba tanyakan kepada orang gila sekalipun adakah ia ingin tidak tidur pada malam hari? Saya fikir ia juga ingin normal. Tak ada yang menyarankan “begadanglah nak”. Jika ada itu mungkin terpaksa karena ketiadaan uang atau hal hal urgent tertentu. Bagi muslim yang penyakitan insomnia, sholat lah pada subuh. Setelah itu berdzikir dan baca alquran. Efeknya ini akan nampak setelah 4 – 5 hari setelahnya. Jika masih tetap insomnia, teruskan aktivitasmu. Jangan lupa sholat 5 waktu.    

MARAH..!!!



Marah = Bodoh

Wajahnya tidak lagi menunjukkan keramahan seperti biasanya. Biasanya tegur sapa dan pertanyaan – pertanyaan dari muridnya dijawab dengan senyuman tulus. Kali ini berbeda, ia terus menahan keburukan itu dengan tangannya. Mengangkat lalu menjatuhkan pulpen yang ada di tangannya berulang kali di atas kertas absen hariannya. Karena 2 orang siswanya memohon untuk tidak mendapatkan nilai E pada UAS mata kuliah komputer. Ia terus saja menolak dengan alasan 2 orang siswa ini tidak menghargai dirinya dengan tidak hadirnya pada perkuliahan selama 4 kali pertemuan. Sebenarnya 2 mahasiswa itu ingin lebih tahu lagi kenapa harus nilai E kalaulah tidak menghargai alasannya? Yang berarti semua kehadiran terhapus karena 4 kali absen. Berarti selama ini 2 mahasiswa ini tak pernah dianggap berada di perkuliahan sama sekali. Mana yang lebih tidak menghargai kira-kira? Tapi karena cirri-ciri marah sudah terlihat, 2 mahasiswa ini memilih diam. Si jidat (nama samaran mahasiswa 1) adalah mahasiswa semester 2 yang mempunyai kemauan yang tinggi berorganisasi. Selain itu, ia adalah wartawan untuk media online ****** yang juga untuk mengasah kemampuannya dalam jurnalistik. Ditambah dengan hitung- hitung gaji untuk memperlapang pengeluarannya dalam sehari- hari. Kesemuanya itu adalah bentuk kemandirian seorang mahasiswa yang baru saja menjalani perkuliahan. Namun sayangnya kemandirian itu di hargai dengan nilai E . Sedangkan si Kriting (nama samaran mahasiswa 2) adalah seorang yang ingin kuliah yang tidak ingin lagi mendapat kepalsuan- kepalsuan yang teresmikan dalam perkuliahan seperti masa kuliahnya dahulu. Kriting adalah mahasiswa pindahan ( tamat D-III ) namun selettingan dengan si jidat karena sama-sama masuk pada tahun 2014 lalu. Ia berbeda dengan si jidat. Kriting adalah orang yang sering mengalami frustasi karena materi yang melekat padanya kurang begitu mendukung kegiatannya. Hari- harinya kebanyakan dihabiskan dengan frustasi dan mencegah bagaimana untuk tidak lagi frustasi pada jam berikutnya. Ia lumayan sering tidak masuk kuliah karena ilmu yang di berikan oleh dosen kurang menarik perhatiannya. Juga tidak faham bagaimana mereka bisa menjadi dosen yang melanjutkan perkuliahan tanpa memahamkan terlebih dahulu muridnya. Jadi yang kurang cepat nalarnya akan tertinggal dan yang cepat akan maju terus. Sehingga ada semacam tekanan kepada mereka yang kurang cepat nalarnya menangkap pelajaran, membuat alternative pada saat ujian dengan cara mengopek (membawa catatan pada saat ujian/googling/meminta jawaban kepada kawan). Ia juga mendapat nilai E pada mata kuliah komputer dengan alasan yang sama, tidak menghargai.
Argumnentasi bercucuran dari si kriting yang memang sudah terbiasa dengan banyak kondisi lapangan yang dihadapinya pada masa kuliah nya dulu. Namun wajah sang dosen berubah menjadi merah, mungkin karena ia tak bisa lagi menjawab pertanyaan kedua mahasiswanya dan hanya berulang-ulang menjawab saya tidak di hargai.. Begitulah memang kalau diri merasa “akulah kebenaran” itu. Karena takut marah, si mahasiswa mundur selangkah daripada melawan monyet betina yang lagi tak karuan. Ya harus terima dengan nilai E. Mungkin ijazah ibu dosen itu palsu, karena ia tak tahu dan faham apa itu TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI. Aku tak mau lagi mengingat si dosen yang satu ini. Rasanya kembali bodoh dibuatnya. Bayangkan saja kebodohan raja yang menolak pendapat galilei galileo yang mengatakan bumi itu bulat. karena kemarahannya kepala galilei pun hilang dan tak bergenerasi lagi. Terima kasih computer, semoga muridmu persis seperti komputer yang kau jalankan. Mesin berbentuk manusia. Tapi aku tak akan pernah menjadi Komputermu. Karena aku bukan juga berjenis komputer yang bisa kau operasikan.