Jumat, 27 Februari 2015

Perjalananku

Hari 1

      Sinar mentari pagi sesekali ditutupi awan cumulus , riuh suara mesin mulai ribut tak mau kalah menutupi ruang kota, kampus, juga telingaku. Udara segar berganti udara polusi, sesekali kulengketkan bahu bajuku ke hidungku agar udara yang kuhirup tersaring di bajuku. begitu kiranya kejadian singkat dipagi itu. Jam karet..! Gumanku..
 
      Ku kayuh sepedaku setengah malas, karena perjuangan terencanaku baru saja amblas, ditelan 2 jam waktu. Debu kota bertebaran menghalangi pandang dan pernafasanku, pekik terasa menjalankan misi, Hari itu 6 juli 2013. Kayuh demi kayuh, lambai demi lambai, mereka seakan tertelan fatamorgana bersama lekukan kota nista yang akan kutinggalkan. *****, kota swasta metropolitan tanggung begitu sebutanku. Keringat mungil mulai mengerayangi bodyku seraya membasahi baju pemberian orang itu. Terasa aroma tubuhku agak bau dan dingin karena kayuhan sepedaku mulai menapak 25 km/jam. Pundakku sedikit mengeluh sebab beban terberat kuserahkan padanya. mengingat beban itu layak dan baik meski si bahu itu menderita, ''kuatlah menahannya, kelak kita akan sampai ke satu dimensi ketabahan yang luar biasa'', saranku dalam hati. Panas sinar matahari kian menjadi-jadi seakan tak mempunyai rasa kasihan. Ku ambil beberapa foto di flyover amplas bersama priay hasugian siapa tahu itu foto terakhirku sebagai salam perpisahan. dia hanya mengantarku sampai disana saja. Ku kayuh lagi sepedaku, rasanya aku seperti bercumbu dengan debu polusi kota,jalanan, juga rantai sepedaku. suasana macet, klakson klakson berteriak dari sana sini, marah menandakan "segeralah menyingkir, waktu ku tidak banyak".ada yang menerobos walau sudah menandakan lampu merah, ada juga yang kurang taat, berhenti dilampu merah namun ban belakang nya yang berhenti digaris putih, sehingga menyusahkan kendaraan lain untuk beradu cepat meninggalkan kemacetan.  kuterobos saja meski lampu menandakan marah, Ellleehh pikirku..
 
***
 
      Ngooong...ngooong..ngoong..grrrrrrk....grrrrrkk.. Begitu suara rodanya dan getaran setir yang kurasakan agak deras, jalan itu mengadu kepadaku bahwa ada sesuatu yang kurang disana. Entahlah,, soalnya aku tidak terlalu menyoali soal proyek nakal itu, masa bodo..! Kuarahkan roda depanku ke garis putih pinggiran jalan, berharap agar tidak tertabrak pembalap moto GP dan formula 1 nantinya. Jika tertabrak maka untuk sampai ditujuan mungkin 1 bulan lagi karena untuk proses saja, rumitnya luar biasa. Untung juga aku pake sepeda, seandainya sepeda motor.. Tutup tangki, warna, pentil, ban, jari-jari, mungkin kalo ada kuku juga kena tilang dengan dalih yang berbagai macam dan ujung-ujungnya Duit adalah penyelesaiannya. Begitu singkat rasanya, kota medan hilang di belakangku. Angin yg menerpaku kian kuat karena kayuhanku kian meraja lela. Macet?? jembatan T morawa ada apa gumanku,, kuterobos jalan itu meski amat sempit yg penting aku tidak merusak yg kulewati. Dari kejauhan terlihat marka jalan bergambar org dengan sekop, ohh.. fikirku. aku terus mengayuh sepedaku dan tiba- tiba pedagang bendera mini muncul di depanku, spontan aku langsung memeras rem depan dan belakang. Matanya merah, Dia menatapku dengan wajah tidak merasa bersalah. 
Ada apa bg?? tanyaku..
Macet dek, ada perbaikan jalan kan mau lebaran sahutnya.. 
Padahal maksudku bukan menanyakan soal kemacetan itu, tetapi kenapa dia menatapku dengan seperti itu ditambah wajah tiada rasa bersalahnya. Dan setelah kupikir pikir matanya merah mungkin gara-gara debu, polusi disana. Segera aku tawarkan keramahanku, dengan modus irama yg bermanuver untuk mendapatkan satu buah bendera merah putih mini dari nya. Kuhanturkan terima kasih kepada nya, pemberiannya ku tancapkan di setang sebelah kiriku. Dan melaju..

***
 
      Matahari menunjukkan pukul 11 lewat, sengatan sang surya pun makin tajam menyibak kulitku. Seketika aku teringat sebuah tikungan manis di perbaungan itu, kuputar memori ingatanku, aku pernah melewati ini bersama kawan-kawan Pramuka tahun 2007/2008 dalam acara Raidasu yang diadakan di kecamatan Sipispis. File kedua ada teriakan perempuan, histeris seakan kerasukan di tahun 2009, ketika itu bus yang membawa kami berasap seakan mau meledak. Tapi untunglah tak jadi.  Lamunanku dibuyarkan suara sempritan ahli parkir yang tidak profesional. Isyarat tangannya begitu lihai seketika mengarahkan kepadaku lima jari. Tetap saja aku tak peduli dan terus mengkayuh sepedaku. Siapa suruh jadi tukang parkir yang memakan badan jalan? Tatapan otomatis nya mengarah kepadaku hampir 100 derajat kepalanya berputar dan menoleh sampai 100 meter jauhnya. Alhamdulillah, abang parkir itu senang melihatku. Terus kupacu kambing besiku di jalan datar itu, karena mengingat awal puasa 3 hari lagi. Speedometerku lumayan pelit, hanya menunjukkan angka 41-46 km/jam padahal bulu kakiku yang gelombang pun sudah hampir lurus di hembus angin kayuhan ku. Lobang - lobang kecil di jalanan yang disengaja tukang aspal semakin membuat ku bersemangat dan fokus. Ada yang berbentuk cembung ada juga yang cekung, yang paling uniknya ada seperti jatuhan meteor sehingga berbentuk segi dua belas sembarangan, kemungkinan terdapat ikan gabus, lele, bahkan aligator bersemayam di dalamnya. Terima kasih abang tukang aspal, aku jadi tak sendiri di jalanan ini. Semoga engkau banyak pahala serta murah rejeki sebab, ke-kreativitasanmu di jalanan aspal pun kau berikan mereka kehidupan yang mumpuni. 

**** 

      Deras keringat yang turun terus menghujani badanku yang kurus seimbang, dayungan ku kian melambat. Tebing tinggi jalan yang paling mengesalkan bagiku, disini aku baru tahu jalan juga bisa menipu dan berkata jujur padahal ia benda mati yang satu-satunya boleh bahkan wajib di injak-injak. Tapi jangan coba-coba untuk mencium juga memeluknya. Betapa tidak, aku setengah mati terus mendayung, Awalnya aku hanya berfikir rantainya panas dan tak licin berminyak lagi. Ternyata jalan yang kelihatan datar aslinya seperti pergelangan tangan ke siku. Aku hampir kehilangan semangat di siang itu. Truk-truk yang tidak berperasaan lewat saja hanya memberikan asap hitam tebal di depanku. Rim roda truk itu pun terlihat seakan mengejekku sambil berlalu. Lama ku merenung sambil mendayung malas di atas sepedaku berharap, sekali dayung lagi Danau Toba ada di hadapan ku. Tiba-tiba mobil kijang Innova lewat dengan melambaikan tangannya ke arahku lalu berubah bentuk menjadi kepalan tangan yang hanya ibu jarinya yang berdiri tegap dan menunjuk langit. Aku heran tambah penasaran serta kebingungan, kepada siapa ia sampaikan lambaian dan tanda ibu jari itu? aku menoleh kebelakang, tak ada seorang pun disana dan di samping kiri kanan ku hanya pohon karet dan sayuran. Entah darimana datangnya, staminaku bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Kupaksa kambing besiku berlari kencang mengejar mobil pemberi tanda ibu jari itu, sayang aku hanya melihatnya di ujung tikungan sebesar helm, lalu hilang. Kuperlambat dayungan ku sejenak, sambil mengambil nafas segar dibawah pohon-pohon besar pinggir jalan itu. Truk pun lewat, aku tak mau lagi di ejek oleh Rim Fuso itu. Ku kejar lalu kudekati bokong fuso itu lalu ku pegang erat tali pengikatnya dengan tangan kiriku, di bawahnya ada tulisan ''pulang malu, tak pulang rindu''. Sepertinya dia tahu kondisiku saat ini. Ya, anak perantau pengangguran. 2 kilometer kemudian kulepas dan ia pergi berlari seperti gajah...

     Jarak 73 kilometer itu hanya kulalui kurang lebih dari 8 jam saja. Pertempuran selama itu tidak menyurutkan  energi ku untuk berlabuh lagi di atas aspal. Detik jam tanganku berdetak ragu-ragu dan ''dia'' pun berteriak mengatakan hari ini sudah cukup sampai disini, istirahatlah, dan cari tempat perlindungan sebelum gelap malam tiba.
                                      
                (Beristirahat di perkampungan karet, lewat tebing tinggi Medan)
 
bersambung..................

Selasa, 24 Februari 2015

ME-REVOLUSI TUHAN

Kini bumi telah miring
Tak seimbang lagi
Dengan apa yang tuhan isikan kedalamnya
Alam dijadikannya sebagai penyeimbang
Kehidupan untuk mahluk hidup
Diambil alih oleh sang khalifah bumi
sebagai perlawanan yang keras
Untuk merevolusikan tahta ketuhanan

Tinggi dijadikan rendah
Rendah dijadikan datar
Datar dijadikan tangga ke langit
Langit dijadikan jalan
Jalan diarahkan menuju jendela neraka
Mati dihidupkan
Dan hidup dimatikan
Serentak universal melawan tuhan
Tidakkah itu kau dengar sebagai penyeimbang?

Kesederhanaan kini ditelan teknologi
Yang awalnya meminta kebaikan kepada manusia
Untuk melukiskan lukisan-lukisan masa yang jauh dari ketamakan
Kini kebenaran sejati telah membuktikan
Manusia tak mampu merevolusikan Tuhan..!

Selasa, 17 Februari 2015

1 + 1 = 0



1 + 1 = 0


Teori ini saya jelaskan dan membaginya menjadi dua teori yang mana metode penelitiannya berdasarkan matematika dan fakta dalam kehidupan bernegara. Mohon segera terkejut apabila telah selesai membacanya dengan penuh kesadaran. Apabila anda tidak terkejut, dimohonkan agar pura-pura terkejut saja”. 

Metode 1

         Pengertian (+) tambah dalam ilmu matematika digunakan sebagai, penambah untuk meningkatkan hasil yang dipadukan dari sesuatu satu dengan sesuatu lainnya. Hasil dari kombinasi keduanya secara ilmu matematika akan memperkuat, bertambah dari sebelumnya. 1+1 misalnya, akan menjadi lebih besar hasilnya apabila keduanya digabungkan menjadi satu sama dengan 2. Begitu juga dengan penambahan huruf, kata,  dan kalimat dalam komunikasi atau pun bahasa. Akan memperjelas yang sebenarnya sudah jelas artinya. Namun pesan tersebut belum sempurna tanpa penambahan kalimat selanjutnya. “Aku” misalnya, tanpa menambahkan kata selanjutnya orang akan faham arti aku tersebut. Tetapi orang akan bertanya-tanya kenapa dengan aku tersebut diucapkan? Maka perlu penambahkan kata selanjutnya untuk memperjelas aku tersebut. Tambahkan kalimat sesuai dengan perasaan yang dirasakan. Begitu seterusnya. Andai seseorang berkomunikasi dengan satu huruf, atau kata saja, hal itu akan membuat pesan yang berartikan ambigu. Tentunya untuk difahami oleh lawan komunikasi yang berbeda dengan penyampai pesan. Akan butuh beberapa puluh tahun, bahkan ratusan tahun untuk memahami arti dari 1 huruf saja, dengan syarat adanya kesepakatan. Misalnya dengan huruf “S”, tak akan difahami sebagai tanda untuk berhenti/ jangan melintasinya pada zaman nabi Harun. Akan lebih mudah difahami jika menambahkan dua buah kayu berbentuk silang “X” atau dengan menuliskan keterangan tempat tersebut dengan HATI-HATI..!!! dll

Metode 2

            Pengertian (+) di metode kedua ini, sangatlah berbeda dengan teori pertama. Teori ini mengartikan +, berarti mengurangi fungsi hasil yang dipadukan menjadi satu. Entah bagaimana metodenya saya kurang faham. Namun  sesuai dengan fakta yang menjadi keakuratan metode ini, menjadikan pantas untuk dikaji ulang apa artinya tambah (+). Mari ambil contoh dekat di institusi kita dalam bernegara. BNN misalnya (bukan Badan Nakut Nakutin),  adanya BNN tentunya melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap psikotropika, prekusor dan bahan adiktif lainnya kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol (wikipedia). Itulah tugasnya. Boleh saja kita melihat di televisi banyaknya pengedar kelas curut yang tertangkap dan sudah di dalam jeruji. Mafia-mafia penyelundupan tertangkap di pelabuhan. Dan raja-raja bartender telah di musnahkan dikerlap-kerlip malam, katanya. Beri applause nya sekali dan ibu jarimu sekali. Namun ketika pangkal yang telah di potong tumbuh kembali karena mengakar ke dalam tanah. Akan tiba saatnya akar ini mencekik anak-anakmu yang berusia 15 tahun. Akan tiba waktunya akar ini memerkosa putrimu dan istrimu. dan bahkan akan tiba masanya akar ini menyodomi kau sendiri. you see that..?   penambahan (+) BNN ini kiranya hanya mempermudah cara kerja mafia yang asli untuk menanam benih curut lebih banyak lagi. Sehingga lorong-lorong jalanan semakin berliku dan semakin susah untuk ditemukan siapa sebenarnya pengendar kelas aliyah nya. Berdasarkan logika sederhana saja, jika benar-benarlah "ia" ini melaksanakan tugasnya, mana mungkin majikan mafia tidak terjerat dalam perangkap BNN. Jika sudah begini ceritanya, jalanan penerus bangsa sekeras aspal pun akan rapuh, dan terjungkal jungkir balik dan mati. Saatnya untuk menghentikan applause mu, jangan berikan lagi ibu jari kita dihisapnya. Berikan saja Jari-jari yang lain.

Selasa, 10 Februari 2015

Siraja Nilai



Siraja Nilai


Maaf…
Aku  tidak mendaftarkan diri
Untuk segala hal
Yang beraroma demokrasi terpimpin
Dengan kecerdikan dan kedigdayaan mu
Kau bermaksud baik untuk baik
Namun aku takut
Tanpa aku sadar sudah berada dalam kantong mu

Kau hanya perlu menggelindingkan aku
Ke lumpur hidup
Yang seolah subur namun menelanku hidup-hidup
Ke tanah tandus
Menginginkan aku berkawanan dengan ular derik?
Atau kau mengingikan aku untuk memohon
Serta menciumi kakimu sebagai proposalku menolak itu?

Inikah yang kau pinta?
Tanpa bermaksud mengecewakanmu
Aku tak berserah diri untuk perbudakan
Soal terpimpin..
Aku tak perlu itu