Jumat, 23 Januari 2015

Jeritan Bisu



Nafsu yang memanggil walau dengan parau
  Lebih terdengar di kejauhan
    Dengan jelasnya gemuruh panggilan untuk menghadap tuhanmu
      Di bawah kubah di atas sajadah

        Kaki seperti terikat jeruji, me- Nugu
          Membeku karena bisikan hati
             Menolak memakukan kening
                Ke ufuk barat tempat surya ditelan bumi

                    Air yang dijadikan berserah diri
                    Untuk menyucikan jiwa
                    Pun menangis, meratap, seakan ingin lekas
                    Turun dari bak dan mengalir meraung kembali kedalam tanah
                    Dan bermigrasi menuju Afrika, Palestina dan Eutopia.
                    Tempat dimana tanah dijadikan penggantinya.

                        Aliran molekul listrik yang menerangi singgasana
                       Ingin sekali mati selama-lamanya
                     Kelak tahu betapa sakitnya itu ketidaktahuan
                  Dan do’a terkabul menjadi
                Orang yang membutakan diri dengan niat

                Papan lemari dan pintu gubuk
             Mereka meronta dari kerasnya paku yang menikam abadi
          Mereka mencoba melarikan diri
        Ingin kembali seperti pohon yang tidak bernasib sama dengannya
     Tumbuh melambung tinggi
  Menghalang topan dan   
Ia akan merasa lebih bermanfaat sebagai rumah binatang