Nafsu yang memanggil walau dengan parau
Lebih terdengar di kejauhan
Dengan jelasnya gemuruh panggilan untuk
menghadap tuhanmu
Di bawah kubah di atas sajadah
Kaki seperti terikat jeruji, me- Nugu
Membeku karena bisikan hati
Menolak memakukan kening
Ke ufuk barat tempat surya ditelan bumi
Air yang dijadikan berserah diri
Untuk menyucikan jiwa
Pun menangis, meratap, seakan ingin lekas
Turun dari bak dan mengalir meraung kembali
kedalam tanah
Dan bermigrasi menuju Afrika, Palestina dan
Eutopia.
Tempat dimana tanah dijadikan penggantinya.
Aliran molekul listrik yang menerangi singgasana
Ingin sekali mati selama-lamanya
Kelak tahu betapa sakitnya itu ketidaktahuan
Dan do’a terkabul menjadi
Orang yang membutakan diri dengan niat
Papan lemari dan pintu gubuk
Mereka meronta dari kerasnya paku yang menikam
abadi
Mereka mencoba melarikan diri
Ingin kembali seperti pohon yang tidak bernasib
sama dengannya
Tumbuh melambung tinggi
Menghalang topan dan
Ia akan merasa lebih bermanfaat sebagai rumah
binatang